Meninggalkan rutinitas dr pekerjaan sejenak, mungkin sempat terfikir oleh kita yg workaholik utk merefreshkan fikiran.
Terlebih aku yg menyambi, yg terkadang tak jarang terbentur dalam tembok prioritas dan loyalitas pekerjaan,
Kuliah pasca sambil kerja d yayasan itu tak mudah kawan,
Tak semudah saat kita masih S1 dlu, yg bsa ambil part time yg jadwalnya bisa disusuaikan sama educative bimbel.
Namun meninggalkan pekerjaan yg sudah hampir mendarah daging mungkin sempat tak terlintas dlm benak,
Menikah berarti sudah sedia menerima resiko perubahan kehidupan baru,
Yah, inilah dia resiko kehidupan yg mungkin bukanlah sebuah resiko melainkan jalan baru untuk saya tempuh berasama dia yg tlah Allah turunkan dr lauhul mahfudzNya,
Bekerja sebagai ibu rumah tangga mungkin bisa jadi keputusan utk para istri yang tak bisa lagi membagi waktunya utk keluarganya, terlebih utk para buah hatinya yg masih butuh asuhan.
Ini posisi yang biasa menjadi kegalauan utk para istri2 yang ingin bekerja mencari nafkah, yah, gak bisa jadi wanta karier, jadi wanita kurir pun tak apalah, hhe
Berbeda dengan posisiku disaat ini, saat harus belajar merintis disuatu tempat, aku harus sudah hentikan itu, dan menyusul suami. Utk meniti kehidupan bersama disana,
Sebagai seorang istri yg masih kurang pengalaman, aku juga harua belajar menjadi istri shaleha, yg taat pada suami.
Namun tak menjadi hambatan utk mewujudkan ambisiku,
Terlebih saat ini aku harus menunggu waktu disaat semuanya dalam packingan kesiapan, dan propesiku sebaga guru disini pun harus aku lepaskan.
Hari2 pernantian wisuda menjalani masa penggguran utk satu bulan itu sangat menggalaukan dan menyedihkan.
Apalagi harus tdak lagi menghadapi siswaku yg briliant itu.
Taklagi mendengar lantunan 99 asmaMu dsetiap pgi memulai belajar. Sedih rasanya ya rabb.
Diam2 q lihat akun twitter mereka tersenyum melihat wallpaper karya mereka menyebutkan wali kelasnya, *geleng kepala sambil usap2 dada dan tersenyum.
I miss you too dear


Tidak ada komentar:
Posting Komentar